5 Teknologi XR Airbus Unggul dari Boeing 2026
5 Teknologi XR Airbus Unggul dari Boeing 2026 mencakup: AR smart glasses HoloLens 2 untuk assembly, VR desain kabin A320 berbasis Unity, mixed reality di pabrik Getafe untuk 70% work orders, digital twin untuk inspeksi A380, dan AR pemasangan harness kabel yang 25% lebih cepat. Menurut Airbus (2023), lebih dari 250 use case XR telah diidentifikasi di seluruh operasional perusahaan.
Industri aerospace global tengah menghadapi tekanan besar: efisiensi produksi, kekurangan tenaga terlatih, dan tuntutan keselamatan yang kian ketat. Di sinilah teknologi Extended Reality (XR)—payung istilah yang mencakup Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan Mixed Reality (MR)—menjadi senjata strategis.
Dalam persaingan Airbus vs Boeing, kedua raksasa aerospace ini sama-sama mengadopsi XR. Namun, data dari berbagai sumber terverifikasi menunjukkan bahwa Airbus telah membangun ekosistem XR yang lebih terstruktur dan luas. Artikel ini membahas 5 teknologi XR spesifik yang menjadikan Airbus unggul dari Boeing di 2026, lengkap dengan data, sumber, dan relevansinya bagi industri penerbangan Indonesia.
Yang akan Anda pelajari: definisi XR di aerospace, 5 teknologi unggulan Airbus, perbandingan dengan Boeing, dan implikasinya untuk teknisi serta insinyur di Indonesia.
Apa Itu Teknologi XR di Industri Aerospace?

Extended Reality (XR) adalah istilah payung yang mencakup Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan Mixed Reality (MR). Di industri aerospace, XR digunakan untuk melatih teknisi, merancang komponen pesawat, memandu proses assembly, serta mendukung inspeksi dan perawatan (Maintenance & Operations/M&O).
Menurut publikasi ilmiah di ScienceDirect (Mei 2025) tentang comprehensive review of XR in aerospace engineering, XR di aerospace mencakup berbagai mekanisme input—mulai dari haptics, eye-gaze tracking, hingga perintah suara—yang diintegrasikan dengan teknologi digital twin dan platform pengembangan seperti Unity dan Unreal Engine.
Airbus sendiri telah mengenal teknologi ini sejak awal 2000-an, ketika tim mereka mulai memanfaatkan VR dalam lingkungan imersif untuk desain komponen pesawat. Namun, dalam lima tahun terakhir, transformasi digital Airbus semakin masif dan terukur.
Poin Kunci:
- XR mencakup AR (overlay informasi di dunia nyata), VR (lingkungan digital penuh), dan MR (kombinasi keduanya).
- Di aerospace, XR diterapkan di desain, pelatihan, manufaktur, dan maintenance.
- Menurut Airbus (2023), lebih dari 250 use case XR telah diidentifikasi di seluruh operasional mereka.
- Integrasi XR dengan CAD dan data digital menciptakan lingkungan kerja yang “seamless” antara in-house dan mitra.
Mengapa Airbus Lebih Unggul dari Boeing dalam Adopsi XR?

Sebelum masuk ke 5 teknologi spesifik, penting untuk memahami konteks kompetisi ini. Menurut Simple Flying (Januari 2026), Airbus memasuki 2026 dengan backlog pesawat terbesar dalam sejarahnya dan telah berhasil meluncurkan A321XLR serta menstabilkan produksi A350. Boeing, sebaliknya, sedang dalam pemulihan besar di bawah CEO Kelly Ortberg setelah berbagai krisis kendali kualitas.
Dalam konteks XR, Boeing memang memiliki sejarah panjang—istilah “augmented reality” sendiri lahir dari riset Boeing di awal 1990-an (diciptakan oleh Tom Caudell dan David Mizell untuk perakitan Boeing 777). Namun, dari sisi breadth (keluasan) dan depth (kedalaman) ekosistem XR saat ini, Airbus menunjukkan keunggulan yang lebih sistematis.
Menurut Paul Davies, Technical Fellow di Boeing Research & Technology, Boeing menggunakan AR HoloLens untuk mempercepat konstruksi pesawat hingga 20% dengan peningkatan kualitas 88%. Ini pencapaian yang signifikan. Namun Airbus, sebagaimana diungkap XR Today (2023), telah membangun kemitraan strategis dengan Unity Technologies dan mengembangkan industrial metaverse in-house dengan cakupan yang lebih luas.
Poin Kunci:
- Boeing adalah pionir terminologi AR (1990-an), tapi Airbus memimpin ekosistem XR saat ini.
- Airbus memiliki program “Holographic Academies” khusus untuk akselerasi adopsi XR.
- Airbus bermitra dengan Unity Technologies untuk pengembangan industrial metaverse.
- Lebih dari 250 use case XR Airbus mencakup desain, pelatihan, manufaktur, hingga operasi.
5 Teknologi XR Airbus Unggul dari Boeing 2026

Teknologi 1: AR Smart Glasses Microsoft HoloLens 2 untuk Assembly
Airbus menggunakan kacamata AR Microsoft HoloLens 2 dalam proses assembly pesawat. Teknologi ini memungkinkan operator melihat instruksi langkah demi langkah secara visual langsung di lapangan, tanpa harus meninggalkan pekerjaan fisik mereka.
Menurut Airbus (sumber resmi airbus.com), penggunaan AR glasses oleh tim elektrikal memungkinkan teknisi melihat harness kabel virtual yang diproyeksikan di atas pesawat nyata. Hasilnya: instalasi 25% lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
Sebagai perbandingan, Boeing juga menggunakan HoloLens untuk pemasangan kabel pada Boeing 767 tanker. Namun Airbus lebih luas dalam deployment—tidak hanya pada satu program, tetapi mencakup berbagai platform termasuk A330 MRTT, A400M, dan C295.
Menurut AiMultiple Research (2024), Airbus memanfaatkan HoloLens 2 khususnya untuk menyederhanakan proses assembly kompleks dengan instruksi visual step-by-step, yang secara langsung mengurangi kesalahan dan mempercepat waktu penyelesaian tugas.
Poin Kunci:
- Airbus menggunakan Microsoft HoloLens 2 untuk guided assembly di berbagai platform pesawat.
- Instalasi harness kabel 25% lebih cepat dengan panduan AR (Airbus, 2023).
- Boeing menggunakan teknologi serupa, tapi deployment Airbus lebih luas lintas program.
- AR glasses hands-free sangat kritis untuk operator yang menangani komponen berat.
Teknologi 2: VR Desain Kabin A320 Berbasis Platform Unity
Airbus adalah pelopor penggunaan VR dalam fase desain pesawat. Sejak awal 2000-an, insinyur Airbus menggunakan VR untuk melihat, berinteraksi, dan menyesuaikan model digital 3D sebelum komponen fisik diproduksi.
Puncak terbaru dari kapabilitas ini adalah peluncuran konsep Cabin Customisation and Design berbasis Mixed Reality untuk keluarga A320 di Paris Air Show 2023. Menurut Airbus (2023), ini adalah “first-in-the-industry concept”—tim marketing dapat mengkonfigurasi dan menyesuaikan kabin pesawat secara real-time menggunakan kombinasi kabin fisik dan virtual.
Shane Lord, Director of Strategy and Fleet di easyJet, menyatakan bahwa teknologi AR Airbus ini sangat menjanjikan—mulai dari peningkatan kabin hingga engineering troubleshooting yang lebih efisien.
Airbus menggunakan Unity Technologies sebagai mitra utama pengembangan industrial metaverse in-house. Platform ini memungkinkan integrasi yang mulus antara data CAD, model 3D, dan lingkungan VR/AR, menciptakan ekosistem desain yang berkelanjutan (data continuity).
Poin Kunci:
- Airbus menggunakan VR berbasis CAD sejak awal 2000-an untuk desain komponen.
- Konsep MR Cabin Customisation A320 di Paris Air Show 2023 adalah yang pertama di industri.
- Unity Technologies adalah mitra strategis Airbus untuk pengembangan industrial metaverse.
- Boeing menggunakan VR untuk visioneering produk, tapi belum memiliki konsep sejauh ini.
Teknologi 3: Mixed Reality di Pabrik Getafe — 70% Work Orders Selesai via MR
Ini adalah salah satu bukti paling konkret keunggulan Airbus: implementasi Mixed Reality yang masif dan terukur di pabrik Getafe, Spanyol.
Menurut Airbus (airbus.com, 2023), sejak 2019, teknologi MR digunakan di pabrik Getafe—tempat Airbus mengonversi pesawat A330 menjadi Multi Role Tanker Transport (MRTT)—untuk menyelesaikan 70% dari seluruh work orders, terutama untuk instalasi sistem elektrikal dan hidrolik.
Pencapaian ini luar biasa. Artinya, tujuh dari setiap sepuluh pekerjaan teknis di fasilitas ini diselesaikan dengan bantuan MR, bukan dengan metode konvensional berbasis kertas atau layar terpisah.
Keberhasilan ini mendorong Airbus untuk memperluas program ke platform A400M dan C295, dengan integrasi yang lebih dalam ke sistem informasi perusahaan. Ini menunjukkan pendekatan Airbus yang sistematis: pilot project → validasi → ekspansi skala perusahaan.
Boeing, berdasarkan data yang tersedia, belum memiliki angka yang setara dengan adopsi MR sebesar ini dalam satu fasilitas produksi.
Poin Kunci:
- 70% work orders di pabrik Getafe Airbus diselesaikan menggunakan Mixed Reality sejak 2019.
- Fokus utama: instalasi elektrikal dan hidrolik pada konversi A330 ke MRTT.
- Program diperluas ke A400M dan C295 dengan integrasi lebih dalam ke sistem informasi.
- Pendekatan Airbus: pilot project → validasi data → ekspansi enterprise-wide.
Teknologi 4: AR untuk Inspeksi Digital Twin — Dari 3 Minggu Jadi 3 Hari
Inspeksi adalah salah satu proses paling kritis dan paling memakan waktu di industri aerospace. Airbus memanfaatkan AR untuk merevolusi proses ini secara dramatis.
Menurut Airbus (airbus.com), inspeksi 60.000 bracket pada fuselage Airbus A380 yang sebelumnya memakan waktu tiga minggu kini dapat diselesaikan hanya dalam tiga hari berkat teknologi AR. Ini adalah pengurangan waktu lebih dari 85%.
Teknologinya bekerja dengan cara ini: sejak 2011, insinyur dan operator Airbus menggunakan perangkat genggam yang menampilkan model 3D virtual di atas pesawat nyata, memberikan wawasan akurat tentang ukuran dan posisi komponen. Sensor melacak lingkungan dan gerakan pengguna, mengirimkan video feed yang menggabungkan struktur digital dan fisik.
Ini adalah penerapan prinsip digital twin—representasi virtual pesawat yang digunakan bersama AR untuk inspeksi yang lebih akurat dan efisien. Menurut ScienceDirect (Mei 2025), integrasi CAD dengan XR memungkinkan simulasi imersif dan konseptualisasi detail yang dapat diperkuat lebih lanjut melalui cloud, IoT, dan keamanan siber.
Poin Kunci:
- Inspeksi 60.000 bracket A380 turun dari 3 minggu menjadi 3 hari berkat AR (Airbus, 2023).
- Teknologi berbasis model 3D overlay pada pesawat nyata, digunakan sejak 2011.
- Prinsip digital twin: representasi virtual digunakan bersama AR untuk inspeksi presisi tinggi.
- Efisiensi 85%+ dalam waktu inspeksi adalah nilai bisnis yang sangat terukur.
Teknologi 5: Program Holographic Academies — Ekosistem Inovasi XR Sistematis
Teknologi XR terbaik pun tidak akan memberikan dampak optimal tanpa ekosistem yang mendukung adopsi, pelatihan, dan inovasi berkelanjutan. Di sinilah Airbus memiliki keunggulan struktural yang paling signifikan: Airbus Holographic Academies.
Menurut Airbus (airbus.com), program Holographic Academies dirancang khusus untuk membawa teknologi XR ke level berikutnya melalui prototyping dan implementasi ide-ide paling menjanjikan. Program ini telah mengidentifikasi lebih dari 250 use case XR di seluruh divisi perusahaan.
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, Holographic Academies mencakup: pelatihan onboarding karyawan baru melalui AR yang lebih imersif, sesi pelatihan teknis kompleks yang disampaikan melalui 3D interaktif ke kelompok, serta coaching via holographic coach. Tim HR Airbus bahkan menggunakan AR untuk mengenalkan karyawan baru pada budaya perusahaan.
Program ini membangun kemitraan strategis dengan pemain terdepan di industri XR untuk mendapatkan akses ke teknologi pre-market, memastikan Airbus selalu selangkah lebih maju dalam adopsi inovasi.
Boeing memiliki unit riset XR di Boeing Research & Technology, namun tidak memiliki program ekosistem inovasi XR yang sekomprehensif dan sistematis seperti Holographic Academies milik Airbus.
Poin Kunci:
- Airbus Holographic Academies adalah program inovasi XR sistematis dengan 250+ use case teridentifikasi.
- Cakupan: desain, pelatihan, manufaktur, maintenance, hingga onboarding HR.
- Kemitraan dengan teknologi pre-market memastikan Airbus tetap di garis terdepan.
- Tidak ada program ekosistem XR yang setara dari Boeing yang terdokumentasi secara publik.
Bagaimana Teknologi XR Airbus Relevan untuk Industri Indonesia?

Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia sangat bergantung pada transportasi udara. Menurut data Kementerian Perhubungan, trafik penumpang udara domestik Indonesia terus tumbuh pasca-pandemi, menjadikan negara ini salah satu pasar aviation terbesar di Asia Tenggara.
Maskapai Indonesia seperti Garuda Indonesia dan Citilink mengoperasikan armada yang sebagian besar berbasis Airbus A320 dan A330. Ini berarti teknisi dan insinyur MRO (Maintenance, Repair & Overhaul) di Indonesia berpotensi langsung merasakan dampak dari adopsi teknologi XR Airbus.
Bagi perusahaan di industri teknik dan industri di Indonesia, pemahaman atas teknologi XR yang digunakan oleh OEM (Original Equipment Manufacturer) seperti Airbus menjadi krusial—baik untuk keperluan pelatihan teknisi, pengembangan kapabilitas MRO lokal, maupun kesiapan mengadopsi teknologi serupa di lini produksi industri nasional.
Poin Kunci:
- Indonesia adalah pasar aviation besar di Asia Tenggara dengan armada Airbus yang signifikan.
- Teknisi MRO Indonesia yang menangani A320/A330 akan berinteraksi langsung dengan ekosistem XR Airbus.
- Pemahaman XR penting untuk pengembangan industri teknik dan MRO nasional.
- Adopsi XR serupa dapat meningkatkan efisiensi dan keselamatan di fasilitas industri Indonesia.
Baca Juga Rahasia Cobots Industry 5.0 Kolaborasi 2026
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa perbedaan AR, VR, dan MR dalam konteks aerospace?
AR (Augmented Reality) menampilkan informasi digital di atas dunia nyata—misalnya, instruksi instalasi kabel yang tampil di kacamata operator saat mereka bekerja. VR (Virtual Reality) menciptakan lingkungan digital penuh—digunakan Airbus untuk desain komponen sebelum diproduksi fisik. MR (Mixed Reality) menggabungkan keduanya—digunakan di pabrik Getafe Airbus untuk 70% work orders. Ketiganya berada di bawah payung XR (Extended Reality).
Apakah Boeing tidak menggunakan XR sama sekali?
Boeing adalah pelopor AR—istilah “augmented reality” bahkan diciptakan oleh insinyur Boeing di awal 1990-an. Boeing aktif menggunakan XR untuk pelatihan, assembly, dan desain. Namun, cakupan dan kedalaman ekosistem XR Airbus—khususnya program Holographic Academies dengan 250+ use case dan MR coverage 70% di Getafe—menunjukkan keunggulan sistematis Airbus di 2026.
Berapa besar penghematan biaya yang bisa dihasilkan teknologi XR?
Data dari Airbus menunjukkan penghematan yang sangat signifikan: inspeksi A380 yang biasanya 3 minggu menjadi 3 hari (hemat sekitar 85% waktu), instalasi kabel 25% lebih cepat. Menurut Boeing (data dari Kinetic Vision, 2023), uji coba proses berbasis XR menghasilkan peningkatan proses keseluruhan sekitar 40%. Dalam industri aerospace, efisiensi waktu langsung berkorelasi dengan penghematan biaya operasional besar.
Apakah teknologi XR Airbus bisa diadopsi oleh industri lain di Indonesia?
Ya. Prinsip AR untuk guided assembly, VR untuk pelatihan, dan MR untuk inspeksi bersifat lintas industri. Sektor manufaktur, pertambangan, dan migas di Indonesia berpotensi mengadopsi teknologi serupa. Kuncinya adalah ketersediaan hardware (seperti HoloLens 2), platform software (Unity/Unreal Engine), dan program pelatihan yang terstruktur.
Apa itu Airbus Holographic Academies?
Airbus Holographic Academies adalah program inovasi internal Airbus yang berfokus pada prototyping dan implementasi teknologi XR terpilih. Program ini membangun kemitraan strategis dengan pemain terdepan industri XR, mengidentifikasi lebih dari 250 use case di seluruh divisi perusahaan—dari desain, manufaktur, maintenance, hingga HR dan pelatihan karyawan baru.
Kesimpulan
5 Teknologi XR Airbus Unggul dari Boeing 2026 mencakup: AR HoloLens 2 untuk assembly (25% lebih cepat), VR desain kabin A320 berbasis Unity, Mixed Reality di Getafe (70% work orders), AR inspeksi digital twin A380 (85% lebih efisien), dan program Holographic Academies dengan 250+ use case. Airbus unggul bukan hanya karena teknologinya, tapi karena pendekatannya yang sistematis dan ekosistemnya yang terstruktur.
Bagi profesional teknik dan industri di Indonesia, memahami lanskap XR aerospace global adalah investasi pengetahuan yang krusial untuk kesiapan industri di masa depan.
Tentang Penulis: Artikel ini diproduksi oleh tim editorial pombalinjecta.com, yang berfokus pada teknologi teknik dan industri dengan standar fact-based ketat.
Referensi
- Airbus. (2023). Virtual reality with real benefits.
- Airbus. (2023). Mixed reality to meet future challenges.
- ScienceDirect. (Mei 2025). A comprehensive review of extended reality and its application in aerospace engineering.
- XR Today. (2023). Airbus Leverages XR to Tackle Industry Challenges.
- AiMultiple Research. (2024). XR/AR in Manufacturing: Use Cases with Examples.
- Simple Flying. (Januari 2026). Airbus Vs. Boeing: Who Will Rule The Air In 2026?.
- UC Today. (Januari 2026). Extended Reality in 2026: From Experiment to Enterprise Infrastructure.
